ANDALAS NUSANTARA | BANDA ACEH
Di tengah hiruk pikuk aktivitas akademik Universitas Syiah Kuala, dua sosok Bhayangkara tampil mencuri perhatian. Mereka bukan sekadar aparat penegak hukum, tetapi representasi nyata dari loyalitas, dedikasi, dan rasa hormat yang tak lekang oleh waktu. Kompol Dr. Marzuki dan Kompol Dr. Akmal—dua alumni Program Pascasarjana DIM-14—hadir bukan hanya sebagai lulusan, melainkan sebagai penjaga nilai, pengabdi ilmu, dan pelindung sosok yang mereka hormati: Mirza Tabrani. 3 April 2026.
Dalam setiap momentum penting yang melibatkan Sang Rektor, keduanya selalu tampil sigap. Bukan karena perintah, tetapi karena panggilan jiwa. Sebuah refleksi dari ikatan emosional antara murid dan guru yang melampaui ruang kelas. Kesigapan mereka bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan karakter Bhayangkara sejati—siap melindungi dalam kondisi apa pun, kapan pun.
Sebagai bagian dari pasukan elite kepolisian, keduanya memahami bahwa pengabdian tidak hanya diukur dari tugas negara, tetapi juga dari bagaimana mereka menjaga nilai-nilai kehormatan, termasuk kepada sosok yang telah membentuk perjalanan intelektual mereka. Kepiawaian dalam membaca situasi, ketegasan dalam bertindak, serta ketulusan dalam mengabdi menjadi satu kesatuan yang melekat kuat dalam diri mereka.
Pemandangan itu—dua doktor berdiri tegap, mengawal Sang Rektor dengan penuh kewaspadaan—bukan sekadar potret biasa. Ia adalah simbol. Simbol bahwa loyalitas tidak mengenal batas jabatan, dan penghormatan tidak pernah usang oleh waktu.
Inilah wajah Bhayangkara sejati. Bukan hanya pelindung masyarakat, tetapi juga penjaga nilai, penjunjung etika, dan teladan bagi generasi berikutnya.[]



